Jumat, 13 Februari 2015

Ronaldo : Messi Layak disebut pemain terbaik dunia



Setelah banyak legenda yang mengakui Messi pemain terbaik dunia seperti Cannavaro, Maldini, Ronaldinho 
dan Capdevilla. Sekarang giliran Ronaldo Luís Nazário de Lima. Pemain yang lahir di Rio de Janeiro, Brazil ini mengakui hal tersebut saat wawancara dengan media inggris pada Kamis (12/2).


Mantan pemain PSV, Barcelona,Inter, Real Madrid dan Milan ini mengakui bahwa Messi pemain terbaik dunia saat salah satu media inggris, The Guardian mengajukan pertanyaan “Apakah Messi sudah layak di sebut pemain terbaik dunia?” Kemudian Ronaldo menjawab “Ya, Tentu Saja dia (Messi) sudah layak disebut pemain dunia”


"Messi dan Ronaldo di Gala Ballon D'or"


Meskipun keduanya belum pernah merasakan bermain satu tim, tetapi mereka berdua saling bertemu di tahun 2011 di Ajang Individu yang sangat bergengsi di dunia yaitu Ballon D’or.

Kala itu Ronaldo lah yang ditugaskan untuk membacakan nominasi dan memberikan piala individu bergensi tersebut kepada Lionel Messi yang menjadi pemenang mengalahkan Rival utamanya yaitu Cristiano Ronaldo dan Rekan setimnya yaitu Xavi Hernandez.

Kamis, 12 Februari 2015

Kursi Kosong Direktur Olahraga FC Barcelona Sudah Terisi

"Bordas (anggota dewan), Braida, Bartomeu (Presiden FCB), Rexach, Mestre (wakil presiden)"

Setelah kurang lebih 1 bulan posisi direktur sport yang di tinggalkan Zubizaretta terisi, Yang mengisi sekaligus menggantikan Zubizaretta itu adalah Ariedo Braida. Beliau sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur umum AC Milan sejak tahun 1986 hingga 2002 dan kemudian tahun 2002 sampai Desember 2013 berganti menjadi Direktur Olahraga AC Milan.

Seperti yang dilansir media italia, Bradia tertangkap kamera sedang berada tribun stadion camp nou untuk menyaksikan laga semi final Copa del Rey antara FC Barcelona kontra Villareal CF dini hari (12/2).
"Bradia saat berada di tribun camp nou"

Hal inipun dikonfirmasi oleh Presiden FC Barcelona Josep Bartomeu “Dia (Braida) sudah menyepakati penandatanganan dengan Barcelona, dan Besok ia akan datang ke Katalan, saya yakin dia akan membentuk kerjasama yang baik dengan Carles Rexach, Jordi Mestre dan Javier Bordas," lanjutnya.

"Dengan demikian mereka semua akan bertanggung jawab untuk mempersiapkan rencana klub di musim depan." Kepada Canal Plus.

Dengan demikian Ariedo Braida dan timnya yaitu Carles Rexach, Jordi Mestre dan Javier Bordas ditugaskan untuk menggantikan peran Andoni Zubizarreta dan Carles Puyol yang mengundurkan diri dari jabatan asisten Direktur sepak bola Barcelona.


Senin, 09 Februari 2015

Pemain Persija Asal Estonia Ini Gagal Bermain di Tour Jawa Tengah.


Persija Jakarta yang saat ini sedang fokus berlatih untuk bersiap menghadapi laga di jawa tengah harus rela memulangkan salah satu pemain asing mereka yang baru bergabung tahun 2014 yaitu Martin Vunk.

Saat melakukan sesi latihan di Jawa tengah, Vunk mengalami cidera yang lumayan serius di bagian Paha. Karena cidera yang dialami Vunk tersebut membuat pihak persija harus memulangkan Vunk ke Jakarta untuk proses pemulihan.

Pemulangan Vunk ke Jakarta di konfirmasi oleh Persija Jakarta melalui akun Twitter resmi mereka yang menyatakan: “Martin Vunk bertolak kembali ke Jakarta siang ini untuk pemulihan cedera. #GuePersija (9/2)

Selain mengkonfirmasi via Twitter resmi mekera, Pelatih yang baru didatangkan dari Persebaya musim ini juga mengkonfirmasi berita tersebut. Karena cidera paha yang di alami, Vunk absen saat Persija Jakarta kontra Persip Pekalongan besok (10/2).

Minggu, 12 Oktober 2014

Pemain Ini “Ngambek” Dengan Tata Martino


Porto, Portugal. Pemain yang musim lalu membela FC Barcelona ini mengungkapkan kekecewaannya kemarin saat konfersi pers yang dilakukan Hari Minggu (12/10) siang waktu Port, Portugal. Dalam konfersi persnya dia mengatakan "Di akhir musim lalu, saya sejujurnya ingin pergi dari tim. tetapi agen saya menyarankan bahwa sebaiknya saya pergi dengan statu pinjaman. Saat itu banyak yang menawarkan saya untuk bergabung, tapi saya lebih memilih Porto”

Pemain yang sebelumnya pernah dijuluki The Next Henry ini, pergi dari FC Barcelona menuju FC Porto dengan status pinjaman hingga musim 2016/2017. Di FC Porto Tello sudah menyumbang 2 Gol dari 5 pertandingan.

Selanjutnya Tello juga membuktikan bahwa ia betah di FC Porto dengan mengatakan "Dua musim yang akan datang saya ingin sekali bermain di Barca dan menjadi orang yang penting di Barca. Tetapi sekarang saya fokus untuk membela Porto dan musim ini saya sangat termotivasi”

“Saat ini saya mulai bermain sedikit demi sedikit dan menit demi menit. Hal ini membuat saya nyaman dan saya sangat senang karena telah dikasih kepercayaan penuh oleh pelatih”

Di akhir konfersi persnya, Telloa mengungkapkan kekecewaan kepada Gerardo Tata Martino “Musim lalu, saat saya masih berseragam Barca, Saya kecewa dengan Pelatih karena dia tidak memberikan kepercayaan penuh. Saya ingin sekali bermain 90 menit, tapi pelatih hanya memberi saya waktu 20 hingga 30 menit bermain”


Pernyataan Tello tersebut sangatah wajar, karena pemain kelahiran Sabadell itu, musim lalu hanya diberi kesempatan bermain sedikit di banding penyerang yang lain. Hal ini karena Tello kalah bersaing dengan Pedro, Messi, Alexis, Neymar dalam perebutan tempat di tim utama.

Senin, 06 Oktober 2014

Sejarah Nama Balekambang dan Batu Ampar

Heey pembaca... Selamat dateng di dunia gw, si penulis abal-abal yang masih gini-gini aja. Di kesempatan kali ini gw akan bahas Sejarah munculnya nama Balekambang dan Batu Ampar, Jakarta Timur.

ASAL USUL BALEKAMBANG

Pertama-tama kite bebarengan bahas Sejarah Balekambang, Jakarta Timur. Daerah Balekambang ada di kelurahan Kramat Jati. Daerah ini adalah salah satu daerah yang masih banyak pohonnya atau biasa yang kita kenal dengan sebutan daerah penghijauan. Selain itu mayoritas penduduknya adalah warga Betawi tulen yang masih kental dengan tradisi, hal ini di buktikan karena masih banyaknya rumah Joglo (Rumah Khas Betawi) di daerah ini.

Trus ngape dikasih nama Balekambang? Jadi konon dulu ada cerita rakyat yang terkenal didaerah ini. Di kisahkan ada wanita asli Balekambang yang bernama Siti Maemunah yang dibuatkan rumah oleh salah satu laki-laki tampan pada masa itu. Hampir sama dengan rumah masyarakat betawi pada umumnya, hanya saja perbedaannya terjadi pada bentuk Bale (tempat istirahat) dirumah ini yang seolah-olah jika ada yang istirahat disitu, ia seperti mengambang di air.


Jadi bisa disimpulkan bahwa nama Balekambang di ambil dari kata Bale (tempat istirahat) dan Kambang (dari kata mengambang). Karena cerita itulah daerah ini dikenal dengan nama Balekambang.


ASAL USUL BATU AMPAR

Yang ke-2 kita akan bahas Sejarah Batu Ampar Kramat Jati, Jakarta Timur. Jadi sejarah dari daerah ini masih ada kaitannya ama sejarah Balekambang. Ceritanya dulu daerah ini pernah ada sepasang suami istri yang bernama Pangeran Geger dan Nyai Polong dan mereka punya anak yang bernama Siti Maemunah yang di masa itu jadi kembang desa.

Seiring berjalannya waktu saat siti beranjak dewasa, Siti dilamar oleh Putra dari pangeran Tenggara asal Makasar yang tinggal di Batu Ampar. Karena budaya yang kental dizaman dulu, maka pangeran Geger memberi peraturan bagi pria yang ingin melamar anaknya dan meminta syarat berupa Putrinya harus dibangunkan rumah dekat dengan kali ciliwung dan harus selesai dalam waktu satu malam.

Tanpa ragu pangeran pun mengabulkan permintaan itu, keesokan harinya setelah persyaratan dibuat, sudah berdiri rumah gagah yang dibuat dan dihubungkan dengan jalan yang dihampari batu-batu. Nah, jalan yang dihampari bebatuan tersebut yang kemudian disebut batu ampar.

Dan sedikit FYI bukan kalian, dulu di awal abad 20 ada perguruan silat betawi yang dipimpin oleh bang maliki dan bang modin. Dan tahun 1986, ada guru silat di kampung ini yang bernama saaman yang ngajarin silat ke kompeni belanda

Kamis, 25 September 2014

Perkembangan Jurnalistik

Sejak Abad 16

Fungsi Pers bertambah menjadi “to influence” dari yang sebelumnya hanya “to inform”. Jejak Milton diikuti oleh John Erskine diabad 18 dengan karyanya “The Rights of Man”. Pada abad 18 itulah beralihnya sistem pers otoriter ke sistem pers Liberal. Ada 2 perjuangan utama pada abad 18 itu untuk membina prinsip liberal yang dipengaruhi oleh pers :
- Perjuangan yang berkaitan dengan fitnah yang bersifat menghasut
- Perjuangan yang bersangkutan dengan hak pers untuk menyiarkan kebijakan yang dilakukan pemerintah

Pada masa itu pemerintah inggris mengawasi kritik yang dilakukan secara terbuka dengan penuntutan terhadap fitnah menghasut. Para hakim yang diangkat kerajaan menaruh simpati kepada upaya pemerintahan dalam pengendalian pers sehingga tidak menggangu khalayak. Tapi pada akhirnya prinsip liberal ini mencapai kemenangan dengan dapat terbitnya kebenaran yang di inggris dibela oleh Parliamentary Act. Dengan demikian pers lebih leluasa dalam menyiarkan berita.

Kemenangan Pers sama halnya dengan kemenangan demokrasi. Karena itu pers diakui sebagai pejuang yang aktif dalam membina prinsip kemerdakaan terutama terjadi pada surat kabar. Untuk pembinaan teoritis, pers telah mengembangkan apa yang disebut “the theory of objective reporting” untuk memenuhi fungsinya sebagai media informasi.

Diawal abad ke-20 kegiatan kantor berita di Amerika mulai aktif, dan kantor berita memasukkan beritanya ke surat kabar lokal dengan informasi yang didapat dari negara bagian, dan sumber internasional. Kantor berita ini hanya membuat berita untuk langganan dari kedua partai politik yaitu Partai Demokrat dan Republik. Menyebarnya objective reporting di Amerika ini semakin diperluas oleh menurunnya keterlibatan pers dalam arena perjuangan politik dan beralihnya surat kabar dari “opinion journal” ke “news medium”. Di kalangan wartawan Amerika Objective Reporting menjadi kebanggaan profesi yang berpegang teguh pada pendiriannya bahwa melaporkan fakta adalah satusatunya tugas mereka. Opini dipisahkan secara tajam dari fakta dan opini ini dituangkan hanya dalam tajuk rencana.

Abad 20 beralihnya jurnalistik dari “The Libertarian Theory of the Press” ke “The Social Responsibility Theory of the Press”. Teori tanggung jawab hakikatnya sama seperti pers yang menganut teori libertarian yang secara tradisional mencakup hal-hal sebagai berikut :
- Mengabdi sistem politik dengan menyajikan informasi, diskusi dan debat mengenai persoalan umum.
- Memberi penerangan kepada khalayak sehingga menimbulkan kemampuan untuk berpemerintahan sendiri.
- Melindungi hak perorangan dengan mengabdikan diri sebagai penjaga menghadapi pemerintah
- Mengabdi sistem ekonomi terutama menghubungkan para pembeli dan penjual barang dan jasa melalui periklanan
- Menyajikan hiburan
- Memelihara kebutuhan sendiri dalam hal finansial sehingga bebas dari tekanan pihak tertentu

Awal tahun di Abad-19 Surat kabar menggunakan beritanya sebagai senjata politik, beritanya diubah, dibuat memihak dan ditahan hingga ada yang menguntungkan. Kemudian diabad yang sama surat kabar menuangkan opininya pada tajuk rencana, beritanya sendiri disusun secara objektif tanpa komentar pribadi dan disajikan tidak berdasarkan satu pihak melainkan semua pihak.

Lalu bagaimana dengan Pers di Uni Soviet? Surat kabar dinegara ini hampir tidak memuat iklan. Isinya yang tampak berbeda pada isi tajuk rencana. Berbeda dengan arti berita bagi orang-orang bukan komunis, arti berita bagi para redaktur Uni Soviet ialah Interpretasi terhadap proses sosial.

Jika ditinjau dari segi jurnalistik surat kabar di Uni Soviet menganut teori pers khas Uni Soviet yang umum dikenal menganut teori otoriter. Meskipun demikian di Uni Soviet terdapat kebebasan menyatakan pendapat. Hal ini dicantumkan dalam Konstitusi USSR pasal 125. Yang dijamin di USSR ini bukanlah “Free Opinion” dan “Free Expression” melainkan “Freedom of access to the means of expression”. Jadi bagi orang komunis jika dikatakan bahwa Pers itu harus bebas, maka yang bebas itu bukanlah untuk menyatakan pendapat, melainkan bebas dari kapital, individualisme, borjuansi dan anarki.

Perkembangan Jurnalistik Di Indonesia
Dimulai dari abad ke-18 tepatnya tahun 1774 dengan surat kabar pertama “Bataviasche Nouvelles” diterbitkan perusahaan belanda. Tahun 1776 terbit di Jakarta dengan nama “Vendu Niews” yang membahas berita pelelangan. Abad ke19 terbit berbagai surat kabar lainnya yang berbahasa belanda dan hanya bisa dibaca orang belanda dan pribumi yang bisa bahasa belanda. Surat kabar pertama yang bisa dibaca pribumi berbentuk majalah muncul tahun 1854 dengan nama “Bianglala” kemudian tahun 1885 disusul “Bromartani” dan tahun 1856 muncul surat kabar dengan judul “Soerat Kabar Bahasa Melajoe di Surabaya. Sejak itu muncul berita yang bersifat informatif dan sesuai dengan kondisi saat itu, seperti Tjahaja Siang, Tjahaja India, Tjahaja Moelia, Sinar Terang, Bintang Timoer, Bintang Barat, Bintang Djohar, Bintang Betawi, Matahari dan lain-lain.

Pers di indonesia, pertama masih berkembang di pulau jawa karena bahasa yang mudah dimengerti dan peralatan percetakan kebanyakan ada di pulau jawa. Sedangkan sumatera pertama kali muncul di padang tahun 1882 “Pelita Kecil” dan 1892 “Partja Barat” yang semuanya diterbitkan orang asing.

Yang menyulitkan para wartawan adalah sulitnya hubungan antara tempat yang satu dengan yang lain. contohnya saja peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada tanggal 27 Agustus 1883 baru bisa dimuat pada akhir September 1883 dengan berita yang tidak lengkap.

Sejarah Pers abad ke-20 ditandai dengan munculnya koran pertama milik RI yaitu “Medan Prijaji” terbit dibandung. Surat kabar ini di miliki dan kelola oleh Tirto Hadisurjo alias Raden Mas Djokomono. Pada mulanya tahun 1907 surat kabar terbit mingguan, kemudian tahun 1910 menjadi harian. Tirto Hadisurjo ini adalah pelopor jurnalistik modern diindonesia, hal ini bisa dilihat cara pemberitaan, pemuatan karangan, iklan dan lain-lain. Ada tulisan yang kontroversi saat “Medan Prijaji” beralih dari mingguan keharian dan karena tulisannya ia disingkirkan pemerintah Hindia-Belanda dari pulau jawa dibuang ke Pulau Bacan.

Semenjak kelahiran Boedi Oetomo dan gerakan kenegaraan lainnya, jumlah surat kabar diindonesia semakin bertambah. Hal ini bisa dimengerti karena organisasi kebangsaan dan keagamaan menyadari akan menyebarluaskan misinya lewat media massa.

Tumbuh “Darmo Kondo” yang mulanya terbit dua kali seminggu menjadi harian. Setelah mengalami pasang surut menjelang perang Pasifik, menjadi surat kabar bahasa indonesia pertama yaitu “Pewarta Oemoem” dan menjadi pembawa Suara Partai Indonesia Raya (PARINDRA). Berikutnya muncul “Sarotama” yang bersarekat islam dan lain-lain.

Dalam kemajuan perkembangan media massa di indonesia, khususnya cetak ada nama-nama besar yang turut membantu, seperti Ir.Soekarno, Dr.Mohammad Hatta, Moh.Yamin, Hadji Agoes Salim, Rangkajo Rasuna Said, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, Hadji Misbach, Dr.Soetomo, Mr.Iwa Koesoema Soemantri, dan masih banyak lagi.

Ditinjau dari segi jurnalistik salah seorang tokoh bernama Dr.Abdoel Rivai dianggap sebagai wartawan yang paling terkenal karena tulisannya yang tajam dan pedas terhadap kolonialisme belanda sehingga beliau dijuluki dengan sebutan “Bapak Jurnalistik Indonesia” dan sudah diakui seluruh rakyat indonesia.

Jurnalistik Sesudah Proklamasi Kemerdekaan

Setelah proklamasi Pers di indonesia mengalami kebebasan sepenuhnya. Tahun 1945 dijakarta terbit Asia Raya yang diterbitkan dizaman jepang. Tanggal 1 Oktober 1945 terbit harian Merdeka sebagai hasil usaha kaum buruh yang menguasai percetakan. Dikota-kota lain juga bermunculan koran baru, antara lain :
- Kedaulatan Rakyat – ex Sinar Matahari (Yogya)
- Soeara Merdeka – ex Tjahaja (Bandung)
- Suara Rakyat – ex Suara Asia (Surabaya)
- Warta Indonesia – ex Sinar Baru (Semarang)

Pada revolusi fisik jurnalistik, para wartawan tidak hanya membuat berita untuk pembaca dipedalaman saja, melainkan berguna untuk prajurit, laskar-laskar yang berjuang. Berita yang dimuat bukan hanya mengorbankan semangat juang, tetapi sekaligus sebagai alat pemukul terhadap hasutan pihak belanda yang disiarkan melalui media massanya.

Awal tahun 1950, partai politik di indonesia mulai mempunyai surat kabar sebagai pembawa suaranya masing-masing, yaitu :
- Masjumi : Harian Abadi
- PNI : Suluh Indonesia
- Parta NU : Duta Masyarakat
- PKI : Harian Rakyat
- Partai Sosialis Indonesia : Harian Pedoman

Tahun 1950 – 1959 muncul doktrin demokrasi terpimpin yang di susul ajaran Manipol Usdek, kebebasan Pers digunakan untuk saling mencaci maki dan memfitnah lawan politik. Tanggal 1 Oktober 1958 bisa dikatakan sebagai tanggal matinya kebebasan pers di indonesia. Sesudah Dekrit Presiden Juli 1959 pihak penguasa berturut-turut mengeluarkan peraturan untuk memperketat pengawasan terhadap pers. Persyaratan mendapatkan SIT diperkeras, semua penerbit tahun 1960 diwajibkan untuk mengajukan permohonan SIT. Diformulir ada 9 peraturan penanggung jawab pemohon untuk mendukung manipol Usdek dan akan mematuhi pedoman yang dikeluarkan. Karena ada peraturan demikian sejumlah surat kabar menghentikan penerbitannya antara lain Harian Abadi, Harian Pedoman, Nusantara, Kengpo, Pos Indonesia dan lain-lain. dengan peraturan tersebut yang paling untung adalah PKI karena musuhnya telah tersingkir.

Lebih parah lagi ada peraturan yang menyebutkan bahwa surat kabar diwajibkan berafiliasi pada organisasi politik atau organisasi massa, dengan demikian sekitar 80 buah surat kabar pada masa itu dimiliki oleh 9 parpol dan ormas. Baru beberapa bulan peraturan berjalan, kemudian lahir peraturan baru yang menyatakan bahwa surat kabar atau majalah harus didukung oleh suatu partai politik atau tiga organisasi massa, dan surat kabar didaerah yang semula masih dibenarkan memakai nama berbeda dengan organisasi resmi dari induk tempat ia berafiliasi di pusat, harus mengubah namaya sehingga sama dengan nama organnya di Jakarta. Demikianlah maka koran teromper massa (medan) yang berafiliasi dengan sinar harapan harus berubah menjadi Sinar Harapan Edisi Sumatra Utara. Dan hal ini kembali menguntungkan PKI.

Klimaks kegiatan PKI dengan segala aparatnya membentuk pemberontakan yang dikenal dengan nama G30S PKI. Gerakan ini berhasil ditumpas oleh rakyat, ABRI dan Mahasiswa. Politik berubah, pers pun berubah. Akibat punahnya Orde Lama yang berganti jadi Orde Baru, hilanglah Harian Rakyat, Bintang Timur, Warta Bhakti, dan surat kabar Komunis lainnya dan muncul harian yang dibuat oleh mahasiswa yaitu Harian Kami, API, Tri Sakti dan lain-lain. Dan di tahun 1966 adalah tahun penting bagi Pers di Indonesia karena tahun itu keluar UU No.11 tahun 1966 tentang Ketentuan Pokok Pers.


Pada tahun 1988 tercatat 163 penerbitan pers, 60 diantaranya berupa surat kabar harian dan sisanya majalah, tabloid dan buletin. Tahun 1992 jumlah tersebut meningkat menjadi 277 penerbitan pers. Sedangkan jumlah tiras atau oplah penerbitan setiap kali terbit pada tahun 1988 sebanyak 10.783.000 eksemplar.

Rabu, 24 September 2014

Jurnalistik Dari Masa Ke Masa

Jurnalistik berasal dari Bahasa Belanda “Journalistek”, bahasa inggris “Journalism” dari kata “Journal” sebagai terjemahan dari bahasa latin yang artinya Harian atau Setiap Hari.

Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal yang sifatnya informasi saja. Terbukti pada Acta Diurna sebagai produk jurnalistik pertama pada zaman Romawi Kuno ketika Kaisar Julius Caesar berkuasa. Selanjutnya surat kabar bisa mencapai rakyat dan dipergunakan kaum idealis untuk melakukan social control sehingga surat kabar juga bersifat persuasif. Bentuk Jurnalistik yang bersifat persuasif antara lain adalah Tajuk Rencana.

Awalnya jurnalistik mulai dikenal saat Julius Caesar menjadi Kaisar Romawi yang mengeluarkan peraturan agar kegiatan senat setiap harinya dapat diumumkan kepada khalayak lewat papan pengumuman yang dinamakan Acta Diurna.

Berbeda dengan media saat ini, pada waktu itu orang-orang yang “kaya” memerintahkan budak-budaknya yang bisa menulis untuk mencatat segala sesuatu informasi yang ada di Acta Diurna untuk diberikan kepada tuan tanah atau majikannya. Dalam perkembangan selanjutnya para Diurnarii (Pencatat berita) tidak lagi terdiri dari para budak, melainkan juga orang-orang yang menjual catatan harian mengenai kegiatan senat itu kepada siapa saja yang membutuhkannya. Berita yang dijual itu bukan hanya berita resmi, melainkan juga berita tidak resmi yang menyangkut kepentingan umum dan menarik perhatian khalayak.

Karena banyaknya penulis berita, terjadilah persaingan antara para Diurnarri, sehingga mereka sengaja menyelusuri kota Roma sampai keluar kota untuk mencari berita. Pelabuhan dan penginapan juga didatanginya untuk mencari informasi dari pada pendatang mengenai kejadian diluar negeri. Demikian jurnalistik pada zaman Romawi.

Meskipun Acta Diurna fungsinya belum bersifat “Journal d’Opinion” seperti yang terjadi pada abad berikutnya yang sempat menyebabkan jatuhnya korban sebagai korban pertama dalam sejarah jurnalistik. Seorang Diurnarri bernama Julius Ructicus dihukum mati karena tuduhan menyiarkan berita yang belum boleh disiarkan atau masih rahasia. Berita tersebut adalah berita tentang kepindahan orang besar yang menurut Caesar belum boleh di publikasikan.

Kasus ini merupakan awal keruntuhannya kerajaan Romawi yang menyebabkan Eropa mengalami masa gelap dan kegiatan jurnalistik di eropa sempat menghilang. Pada saat itu berita hanya boleh diceritakan atau dinyanyikan oleh orang yang disebut “Wandering Minstrels” yang berkelana dari satu tempat ketempat lain. cara pemberitaan itu terjadi di inggris, swiss dan prancis. Kalaupun ada berita yang tertulis hanyalah dalam bentuk surat itupun berita luar negeri.

Tahun 1609, dijerman muncul surat kabar pertama yaitu Avisa Relation oder Zeitung, sedangkan di inggris muncul Weekly News yang terbit di Londom 23 Mei 1622. Tetapi yang benar-benar surat kabar yang terbit teratur dan tercetak adalah Oxford Gazette dan kemudian tahun 1665 namanya berubah jadi London Gazette dan Henry Muddiman menjadi editor pertama yang pertama kali mengetengahkan istilah “news paper” yang dipergunakan sampai sekarang.

Dengan munculnya pers yang terbit secara tercetak dan teratur seperti itu, negara dan gereja mengeluarkan peraturan-peraturan yang bersifat pembatasan yang mencegah diberitakannya hal-hal yang merusak norma (Pernicious), Subversif (subversive), menghina tuhan (Blasphemous) dan lain-lain yang menurunkan derajat manusia.

Tahun 1644, John Milton memperjuangkan kebebasan pers, terkenal dengan Areopagitica A Defense of Unlicenced Printing. Maksud dari kebebasan pers Milton adalah kebebasan menyatakan pendapat. Salah satunya dia berkata “Berikan saya kebebasan untuk mengetahui, mengubah dan memperdebatkan hati nurani diatas segala kemerdekaan”. Pada masa itu pernyataan itu merupakan pernyataan yang hebat terhadap kekuasaan otoriter.


Abad ke-17 pengaruh Milton sangat besar terhadap Jurnalistik. Dan pada saat itu jurnalistik bukan hanya menyiarkan berita yang bersifat informatif tetapi juga opinionatif. Bukan lagi memberitahukan kepada khalayak apa yang terjadi, tetapi juga mempengaruhi pemerintah dan masyarakat.